Bahagia nya generasi tahun 1970
Kalau anak generasi 90-an merasa masa kecilnya bahagia karena sempat merasakan warnet, rental PS, dan nada dering polifonik, maka generasi tahun 70-an punya level kebahagiaan yang lebih “tradisional”. Mereka tumbuh di masa ketika hiburan tidak datang dari notifikasi, tetapi dari suara ibu berteriak, “Masuk! Sudah magrib!”
Generasi 70-an hidup di zaman yang sederhana, tapi justru di situlah letak serunya. Dulu, main tidak perlu kuota. Tidak ada anak yang bilang, “Wifi lemot bikin stres.” Yang ada malah, “Siapa yang bawa bola?” Kalau tidak ada bola, kertas dibulatkan juga jadi. Kreativitas mereka muncul bukan karena fitur aplikasi, tapi karena kondisi yang memaksa.
Anak-anak tahun 70-an juga punya kemampuan sosial yang luar biasa.
“Generasi 70-an mungkin tidak tumbuh dengan teknologi canggih, tetapi mereka tumbuh dengan tawa yang nyata, pertemanan yang hangat, dan kenangan yang tidak perlu disimpan di cloud untuk tetap abadi.”Mereka hafal nama tetangga satu kampung, bahkan tahu siapa yang punya pohon mangga paling manis. Bandingkan dengan sekarang, kadang tetangga sebelah rumah saja lebih sering terlihat di story media sosial daripada di dunia nyata.
Mereka bermain petak umpet sampai lupa waktu, mandi di sungai tanpa takut baterai habis, dan pulang dengan lutut lecet sebagai tanda “prestasi”. Orang tua zaman itu mungkin tidak terlalu sering bilang “aku bangga padamu”, tapi kalau anak disuruh beli gula lalu kembali dengan uang kembalian lengkap, itu sudah dianggap calon orang sukses.
Yang menarik, generasi 70-an terbiasa hidup tanpa banyak pilihan. Channel TV cuma sedikit, tapi tetap ditonton dengan antusias. Sekarang? Pilihan film ribuan, ujung-ujungnya malah bingung sendiri mau nonton apa. Dulu, kalau acara kartun tayang jam 4 sore, semua anak langsung duduk manis di depan televisi. Tidak ada tombol replay. Ketinggalan ya sudah, tunggu minggu depan sambil belajar ikhlas.
Soal teknologi, generasi 70-an mungkin kalah cepat mengetik di smartphone. Tapi jangan salah, mereka punya “skill bertahan hidup” yang kuat. Mereka tahu cara memperbaiki sandal putus pakai paku panas. Mereka juga ahli meniup kaset atau cartridge game seolah-olah itu ritual sakral agar bisa hidup kembali.
Ada satu hal penting yang bisa dipelajari generasi sekarang dari mereka: kebahagiaan tidak selalu datang dari barang mahal atau teknologi terbaru. Dulu, es lilin seribu rupiah bisa membuat satu kelompok anak tertawa sepanjang sore. Sekarang, kadang kopi mahal dan ponsel baru pun belum tentu membuat hati tenang.
Bukan berarti zaman dulu lebih sempurna. Setiap zaman punya tantangannya sendiri. Namun, generasi 70-an mengajarkan bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kedekatan, kreativitas, dan rasa syukur. Mereka tumbuh tanpa terlalu sibuk membandingkan hidup dengan orang lain, karena “feed” mereka adalah kehidupan nyata.
Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang tua atau paman kita sering berkata, “Enak dulu, ya.” Bukan karena dulu semuanya mudah, tetapi karena mereka menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana dan apa adanya.
Jadi, kalau hari ini hidup terasa terlalu ramai oleh notifikasi, target, dan drama media sosial, mungkin kita perlu sedikit belajar dari generasi 70-an: keluar rumah, ngobrol langsung, tertawa tanpa filter, dan menikmati hidup tanpa harus selalu diposting.