Setelah ini , lalu apa lagi ?
Sosial 24 May 2026

Setelah ini , lalu apa lagi ?

Di zaman media sosial, banyak orang bangun pagi bukan untuk bertanya “apa yang baik untuk hidup saya?”, tetapi “apa yang membuat orang lain kagum kepada saya?”. Hidup perlahan berubah menjadi panggung. Ukuran bahagia bukan lagi hati yang tenang, melainkan seberapa banyak validasi yang datang dari manusia.

Padahal dalam Islam,  konsep rezeki jauh lebih dalam daripada sekadar uang, jabatan, atau gaya hidup. Rezeki adalah segala yang Allah berikan kepada manusia

  • kesehatan,
  • ketenangan,
  • keluarga,
  • ilmu,
  • waktu,
Yang menarik, Islam mengajarkan bahwa rezeki setiap manusia sudah ditetapkan Allah jauh sebelum manusia diciptakan. Keyakinan ini seharusnya membuat manusia lebih tenang dalam menjalani hidup. Bukan berarti menjadi malas atau berhenti berusaha, tetapi sadar bahwa hidup bukan perlombaan panik untuk merebut “jatah” orang lain.

Masalahnya, dunia modern membuat banyak orang hidup dalam rasa takut:

  • takut kalah,
  • takut terlihat gagal,
  • takut tidak dianggap,
  • takut hidupnya tampak biasa saja.

Akhirnya orang memaksakan diri terlihat sukses meskipun sebenarnya lelah. Ada yang rela berutang demi gengsi. Ada yang kehilangan waktu bersama keluarga demi citra sosial. Ada juga yang terlihat kaya di internet tetapi hidupnya penuh kecemasan.

Dalam pandangan islam, banyaknya harta bukan otomatis tanda kemuliaan. Karena harta bisa menjadi nikmat, tetapi juga bisa menjadi ujian. Yang lebih penting bukan “berapa banyak yang dimiliki”, tetapi “apa yang dilakukan dengan apa yang dimiliki”.

Di sinilah konsep nikmat menjadi penting.

Banyak orang mengira nikmat tertinggi adalah rumah besar, kendaraan mahal, atau penghasilan tinggi. Padahal para ulama islam memandang nikmat terbesar adalah iman dan ketakwaan. Sebab ketika iman rusak, semua kenikmatan dunia tidak mampu menyelamatkan manusia.

Setelah itu datang nikmat rasa aman. Bisa tidur tanpa rasa takut, hidup tanpa ancaman, dan memiliki hati yang tenang adalah karunia besar yang sering tidak disadari. Lalu kesehatan. Betapa banyak orang kaya yang rela menghabiskan hartanya hanya untuk membeli kembali tubuh yang sehat. Setelah itu barulah harta benda, yang sebenarnya hanya alat penunjang kehidupan.

Ironisnya, manusia sering menukar tiga nikmat pertama demi yang terakhir.

Kesehatan dikorbankan demi uang.
Ketenangan dikorbankan demi status.
Iman dikorbankan demi pengakuan manusia.

Padahal validasi manusia tidak pernah selesai. Hari ini dipuji, besok dilupakan. Hari ini dianggap berhasil, besok dibandingkan lagi dengan orang lain. Jika hidup dibangun di atas penilaian manusia, maka hati akan terus lapar.

islam mengajarkan qana’ah, yaitu merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan. Bukan berarti tidak boleh sukses, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai pusat harga diri.

Karena pada akhirnya, orang yang paling kaya bukan yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling tenang hatinya.


Mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah yang kita kejar benar-benar kebutuhan hidup, atau hanya kebutuhan untuk terlihat hebat di mata orang lain?

"Validasi manusia tidak pernah selesai. Hari ini dipuji, besok dilupakan."
- roat.my.id

Sebab bisa jadi, selama ini Allah sudah memberi banyak nikmat, tetapi kita terlalu sibuk melihat milik orang lain sampai lupa mensyukuri apa yang ada di tangan sendiri.

Komentar (0)
Tulis Komentar
Komentar akan tampil setelah disetujui admin.
Foto Profil
Erwin.R,S.Pd

Guru Informatika

Sedang belajar ngetik sejak 2007. Terus belajar dan berbagi.